Sungai Cisadane dari jaman ke jaman

Posted on November 1, 2007. Filed under: sejarah |

Sungai Cisadane.

Sungai yang mata airnya berada di Gunung Salak-Pangrango dengan posisinya sebelah selatan Kabupaten Tangerang ini merupakan sungai cukup besar melintasi Tangerang. Panjang sungai sendiri sekitar 80 kilometer dengan bermuara di Laut Jawa.

 

Sejak dahulu sungai Cisadane telah dimanfaatkan sebagai pengairan. Kompeni Belanda sendiri telah membuat sebuah bendungan guna mengatur debit air sungai Cisadane yang akan mengalir ke Batavia. Jika tidak demikian dikhawatirkan kota Batavia terendam banjir cukup parah.

 

Debit air sungai sendiri sangat bergantung curah hujan di daerah Bogor. Jika curah hujan tinggi bisa dipastikan debit air tinggi bahkan sampai akibatkan meluap. Saat penulis kecil, jarak rumah tidak terlalu jauh dari sungai. Pernah sekali warga sekampung dihebohkan air sungai yang meluap. Ketika itu mudah sekali mendapatkan ikan Lele, Sapu-Sapu, Gabus, dan lainnya. berbondong-bondong warga memenuhi tepi sungai dengan membawa ember. Senang sekali ketika itu bisa panen ikan tanpa repot memancing.

 

Entah apakah ikan-ikan masih banyak di sungai Cisadane, lantaran masih adanya beberapa industri yang membuang limbahnya ke aliran sungai. Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang saja pernah mengeluarkan laporan bahwa sungai kebanggan masyarakat Tangerang ini telah tercemar zat limbah seperti sianida, tembaga, seng, dan sebagainya. Ironinya, air sungai digunakan sebagai bahan baku produksi PDAM Kota dan Kabupaten Tangerang yang mensuplai kebutuhan air bersih masyarakat.

 

Untunglah masih ada perhatian pemerintah untuk menjaga kelestarian sungai Cisadane. Setidaknya pemerintah melarang pendirian rumah sepanjang bantaran sungai. Jika tidak, tentu limbah rumah tangga menambah pencemaran. Bisa jadi air sungai yang semula coklat berubah menjadi hitam dan bau seperti nasib sejumlah sungai di kota Jakarta. Pemerintah juga bertindak keras terhadap industri yang masih bandel membuang sampah ke sungai.

 

Pernah ada rencana menjadikan sungai Cisadane sebagai objek wisata dengan menyediakan perahu yang bisa disewa untuk susuri sungai. Hanya saja, rencana yang sudah terlakana itu tidak ditangani serius. Saat ini paling setahun sekali digelar Festival Perahu Naga yaitu lomba dayung di atas sungai Cisadane.

 

Menurut seorang sesepuh, Sungai Cisadane masa lalu lebarnya lebih luas dibandingkan kondisi saat ini. Ketika itu pedagang bamboo sering melintas. Penulis sendiri masih bisa melihat semasa kecil. Pemandangan yang menarik. pedagang bamboo berdiri di atas rakit yang juga dibuat dari batang-batang bamboo. Perlahan-lahan si pedagang mendayung rakitnya. Dalam sehari bisa lebih dari tiga kali pedagang melintas. Rasanya pemerintah perlu melirik membuat jalur transportasi air melalui sungai Cisadane.

 

Aroma mistis pun tidak bisa lepas jika membicarakan sungai Cisadane. Konon sering dikabari terdapat siluman buaya putih di sungai ini. Siluman ini berwujud buaya dan suka memangsa orang-orang yang sedang beraktifitas di tepi sungai, seperti mandi atau mencuci. Sampai pertengahan 80-an, memang masih ada masyarakat yang menggunakan aliran sungai Cisadane untuk mandi atau cuci. Buaya sendiri pun masih bisa ditemukan karena penulis pernah menemukannya di halaman belakang rumah.

 

Tetapi masa kini sungai Cisadane menghadapi tantangan jaman yang begitu berat. Upaya melestarikan bisa terus berlangsung jika sungai Cisadane dijadikan sebagai symbol kota. Sehingga anak-cucu pun masih bisa menyaksikan sebuah sungai yang bersih dan indah.

 

Megi Primagara

 

 

 

 

 

Advertisements

Make a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

3 Responses to “Sungai Cisadane dari jaman ke jaman”

RSS Feed for Hoogiez, CiBen@BentengMakasar Comments RSS Feed

[…] Melirik sejarah Cisadane membuat kita bertanya, akankah Kunjungan menteri lingkungan hidup dan  Gubernur banten baru-baru ini akan membuat Sungai yang kerap menjadi maskot kota Tangerang ini menjadi lebih bersih?  Kita lihat saja. […]

[…] PerahuJadi Sabtu sore kemarin, untuk yang kesekian kali, saya ngajakin mantan pacar main ke tepi Sungai Cisadane. Cisadane yang melintasi Tangerang tentu saja. Biasanya trip ke sana suka disambi pekarjaan. Namun […]


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: